Beragam Komentar tentang Gadis Berhijab Indonesia Gabung Militer AS


Jakarta, 20 Januari 2026 – Sebuah video yang menampilkan seorang gadis berhijab mengenakan seragam Tentara Amerika Serikat menjadi viral di platform X dan memicu perdebatan sengit. Video itu pertama kali diunggah oleh akun @AhlulQohwah pada 18 Januari 2026 dengan caption sederhana “Army specialist,” namun kemudian dikutip ulang dan dikomentari secara luas oleh akun @dauzlee04.

Video berdurasi sekitar 38 detik itu memperlihatkan gadis bernama Syifa berpamitan dengan anggota keluarganya di sebuah terminal bandara, diduga di Kanada, lengkap dengan ransel militer dan isyarat tangan seperti peace sign. Adegan emosional ini menunjukkan pelukan dan jabat tangan sebelum ia berjalan menuju gerbang keberangkatan. Video tersebut memicu kritik karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan sejarah intervensi militer AS di negara-negara Muslim.

Postingan @dauzlee04 membandingkan aksi Syifa dengan keputusan Muhammad Ali menolak bergabung dengan Tentara AS saat perang Vietnam karena alasan moral dan agama. Komentar tersebut menyoroti kontroversi antara identitas keagamaan dan pilihan karir, menimbulkan debat panas di kalangan netizen tentang loyalitas dan nilai-nilai moral.

Beberapa komentar mengekspresikan kemarahan dan kekecewaan. Pengguna @KRathalos97 menulis bahwa Ali bangga menolak ikut perang yang membunuh warga tak bersalah, sementara gadis berhijab ini justru bergabung dengan militer yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Muslim di berbagai konflik. Komentar lain menyebut ia lupa pada kasus Aaron Bushnell, prajurit AS yang membakar diri sebagai protes terhadap konflik Gaza.

Di sisi lain, ada netizen yang menilai keputusan Syifa adalah hak individu. Meski begitu, mayoritas tanggapan menuduhnya pengkhianatan terhadap umat Muslim, bahkan menyebutnya munafik atau murtad. Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak gadis tersebut maupun militer AS mengenai konteks video, sehingga perdebatan di X terus berlangsung dan viral di media sosial.

Fenomena warga Muslim, termasuk dari negara Arab, bergabung dengan militer Amerika Serikat bukanlah hal baru. Banyak individu dari berbagai negara Arab Muslim memilih bergabung dengan Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan angkatan bersenjata AS lainnya, baik untuk alasan pendidikan, kesempatan kerja, maupun pengakuan status tinggal di Amerika Serikat. Keputusan ini seringkali menuai kontroversi karena dianggap bertentangan dengan solidaritas keagamaan atau kritik terhadap kebijakan luar negeri AS di dunia Muslim.

Bergabungnya warga Muslim Arab dengan militer AS juga dipengaruhi oleh program rekrutmen yang terbuka bagi penduduk asing tertentu, termasuk pemegang visa atau mereka yang mengincar green card. Beberapa melihat kesempatan ini sebagai jalan untuk memperoleh keterampilan profesional, pendidikan, atau stabilitas ekonomi, sementara sebagian lagi menekankan bahwa mereka juga berkomitmen mengikuti aturan dan norma militer AS, meskipun terkadang konflik moral muncul terkait keterlibatan dalam operasi di negara-negara Muslim.

Meski motivasinya beragam, fenomena ini memicu debat di kalangan masyarakat Muslim global. Banyak yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kompromi dengan institusi yang dianggap telah terlibat dalam perang di negara-negara Muslim, sementara sebagian lain menekankan hak individu untuk memilih jalur karir dan hidup. Kasus seperti Syifa, gadis berhijab yang viral baru-baru ini, mencerminkan ketegangan antara identitas agama, loyalitas nasional, dan pilihan karir di era globalisasi dan mobilitas internasional.

Gabung Militer Rusia

Sebelumnya dilaporkan juga seorang anggota Brimob Polda Aceh, Bripda Muhammad Rio, resmi dipecat setelah terbukti bergabung menjadi tentara bayaran Rusia. Kasus ini mencuat setelah Rio masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) karena desersi dari kesatuan Brimob, memicu perhatian publik dan aparat keamanan.

Sidang etik profesi Polri terhadap Muhammad Rio digelar secara in absentia pada Kamis, 8 Januari 2026, di Polda Aceh. Dalam sidang tersebut, Majelis Etik menilai tindakan Rio sebagai pelanggaran berat, mengingat ia meninggalkan tugas resmi dan bergabung dengan pasukan asing yang beroperasi di wilayah konflik.

Setelah sidang pertama, sidang kedua dilakukan melalui KKEP (Komisi Kode Etik Profesi) di ruang sidang Bidpropam Polda Aceh. Kedua sidang menegaskan bahwa Rio melanggar kode etik, hukum militer, dan peraturan Polri, sehingga pemecatan menjadi keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.

Kasus desersi ini bukan yang pertama dari Brimob Aceh. Sebelumnya, terdapat laporan anggota Brimob lain yang juga desersi dan bergabung dengan pasukan asing, bahkan dilaporkan tewas dalam pertempuran di wilayah operasi militer luar negeri. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran terkait kontrol internal dan risiko anggota Polri menjadi tentara bayaran di konflik internasional.

Pihak kepolisian menekankan akan meningkatkan pengawasan internal dan menegakkan disiplin ketat agar kasus serupa tidak terulang. Publik diimbau memahami bahwa tindakan individu yang desersi tidak mencerminkan institusi, sementara Polri tetap berkomitmen menjaga integritas dan profesionalisme seluruh anggotanya.


Share on Google Plus

About marbun

    Blogger Comment
    Facebook Comment